Kamis, 11 Februari 2021

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER 01 PENGANTAR ILMU EKONOMI DAN BISNIS KAMPUS MILENIAL ITBI

 

NAMA                  : JUNITA SIMANJUNTAK

KELAS                  : PAGI

JURUSAN             : AKUNTANSI

 

 

 

 

1.    hubungannya demo buruh ini dengan masalah perekonomian yang ada sekarang pasti ada karena dapat memicu pada penurunan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) negara jika terjadi berlarut-larut.

demo buruh ini juga akan sangat terasa pada output perusahaan.  Karena Produksi perusahaan berhenti berjam-jam dan berpengaruh pada indeks produksi. Dengan kata lain, perusahaan menjadi tidak produktif lagi. Tidak hanya itu, nilai tambah produksi juga akan terus menurun. Dengan menurunnya nilai tambah dan output produksi, akhirnya membuat kemampuan perusahaan menggaji karyawan menjadi tergerus.

2.    Kebutuhan adalah semua yang dianggap penting yang digunakan manusia untuk dapat bertahan hidup, misalnya makanan, munuman dan tempat tinggal jika manusia tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhannya, maka hidupnya akan terancam.

Semua orang akan berusaha memenuhi kebutuhannya, dengan cara melakukan berbagai kegiatan ekonomi seperti produksi, distribusi dan konsumsi, hal ini dikarenakan mnausia harus mengelola sumber daya yang mereka miliki untuk memenuhi semua kebutuhannya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kebutuhan manusia yang tidak terbatas antara lain yaitu :

a.    Keadaan alam

b.    Agama dan kepercayaan

c.    Adat Istiadat

d.    Pendidikan

e.    Pekerjaan

f.     Penghasilan

g.    Umur

h.    Tingkat kepuasaan

i.     Peradaban.

3.   

Pemerintah Optimistis Ekonomi Kuartal IV Tumbuh Meski Hanya 0,06%

 

 

 

Pemerintah optimistis perekonomian Kuartal IV akan mencapai zona positif, meski hanya tumbuh 0,06%. Hal ini mengingat mulai membaiknya ekonomi RI seiring didorong program Pemulihan Ekonomi Nasional.

“ Meski tetap minus pada kuartal 2020, Kuartal IV 2020 perkirakannya di rentang minus1% sampai tumbuh positif 0,4%,” Ujar Mentri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Economic Outlook 2021 : The Year of Opportunity, pekan lalu.

Airlangga memproyeksi ekonomi sedangkan sepanjang tahun ini negatif 1%. Namun, ia memperkirakan ekonomi domestik pada tahun depan mampu tumbuh hingga 5,6%. “ ni seiring dengan proyeksi berbagai lembaga Internasional  disekitar 5%,” kata dia.

Selain itu pemulihan ekonomi Indonesia juga sejalan dengan perekonomian global yang memasuki fase pemulihan. Aktivitas ekonomi global mulai meningkat seiring dengan pelonggaran Lokdown di sejumlah negara.

Dengan demikian, ia menyebut tekanan dipasar keuangan mulai mereda. Ini tercermin dari kapitalisasi saham yang meningkat, risiko investasi yang menurun, dan volatilitas pasar yang melandai.

Hal tersebut berdampak pada nilai tukar Rupiah dan indeks harga saham gabungan yang mulai putih usai penurunan tajam pada 24 Maret 2020. “ Sejalan dengan sentimen positif tersebut, Fitch telah menginformasi rating Indonesia menjadi BBB atau stable outlook pada 10 Agustus 2020.”

 

Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, IHSG telah naik 29,61% per 16 Oktober 2020 sejak 24 Maret 2020. Selain IHSG, beberapa sektor juga mencatat meningkat seperti industri konsumsi 34,15%, pertambangan 29,17%, keuangan 32,91%, perdagangan 15,42% dan industri pasar 48,14%. Kemudian, infrastruktur 20,67%,aneka industri 39,75%,pertanian 41,94%, dan properti 3,6%.

Ekonom Center Of Reform on Economic Yusuf Rendy Manilet menuturkan bahwa perekonomian RI pada Kuartal IV memang akan membaik jika dibandingkan dengan kuartal IV lainnya. “ Hanya saja proyeksi kami pada kuartal IV masih akan berada dilevel negatif dikisaran minus 2% sampai 1%,”

Perkiraan tersebut didorong oleh kasus Covid-19 yang masih belum menunjukkan tanda tanda berakhir. Dengan begitu, ini berarti, bisa saja sewaktu – waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar akan diberlakukan kembali dan menekan aktivitas ekonomi.

Hal ini, bantuan pemerintah diperkirakan Yusuf hanya memberi dampak kecil kepada masyarakat. Sebagai contoh, kuota Kartu Pra- Kerja yang hanya disediakan untuk 5 juta orang, padahal peminatnya 30 juta orang. “ Artinya ada gap disini. Gap orang yang tidak menerima ini berpotensi tergerus daya belinya tetapi tidak mendapatkan bantuan pemerintah.”

Reaslisasi anggaran PEN baru mencapai Rp. 344,2 triliun atau 49,5% dari paku Rp. 695,2 triliun hingga 19 Oktober 2020. Dari jumlah tersebut, anggaran untuk program perlindungan sosial menjadi yang paling banyak terserap, yakni Rp. 167,08 triliun dari paku Rp. 203,9 triliun.

 

Realisasi anggaran untuk dukungan UMKM mencapai Rp.91,84 triliun atau 74,39% dari paku Rp. 123,47 triliun. Untuk dukungan insentif usaha, anggaran yang telah terserap sebanyak Rp.29,68 triliun atau 24,61% dari paku Rp. 120,61 triliun.

Sementara, realisasi anggaran untuk sektoral kementrian / lembaga dan pemerintah daerah mencapai Rp.28 triliun ataau 26,39% dari paku Rp. 106,11 triliun. Realisasi anggaran untuk program kesehatan mencapai Rp. 27,68 triliun dari paku 87,55 triliun. Adapun, anggaran untuk pembiayaan korporasi masih belum terserap sama sekali alias 0% dari paku Rp. 53,6 triliun.

 

 

4.    yang mempengaruhi nilai uang pada suatu Negara adalah dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya ialah sebagai berikut :

Inflasi

Factor yang pertama mempengaruhi nilai kurs ialah tingkat inflasi yakni penurunan nilai mata uang suatu negara atau dikenal pula dengan kenaikan harga barang dan jasa. Dalam pasar valuta asing perdagangan internasional barang atau jasa memiliki pengaruh terhadap pergerakan kurs valuta asing. Apabila terjadi kenaikan harga barang dan jasa maka berpengaruh terhadap daya beli dari barang atau jasa tersebut. Permintaan yang menurun mampu menjatuhkan nilai tukar mata uang sebuah negara. Jika daya beli barang atau jasa di negara tersebut terus meningkat maka permintaan akan mata uang tersebut juga naik dan mempengaruhi nilai tukarnya.

Kontrol Pemerintah

Nilai tukar mata uang juga bisa dipengaruhi oleh kebijakan yang dikeluarkan pemerintah negara itu sendiri. Misalnya saja melalui kebijakannya pemerintah bertujuan melakukan intervensi di pasar uang, menaikkan tarif bea masuk atau mengenakan pajak untuk barang ekspor. Hal ini menghambat perdagangan luar negeri sehingga mata uang di negeri sendiri bisa jatuh nilainya. Di Indonesia sendiri untuk mendongkrak barang dalam negeri pemerintah menerapkan tarif PPN 0 % untuk barang ekspor.

Aktivitas Neraca Pembayaran

Satu lagi factor yang mampu mempengaruhi nilai mata uang yakni aktivitas neraca pembayaran. Apabila ada kenaikan permintaan mata uang negeri sendiri dari pihak debitur asing maka nilai tukar mata uang kita juga akan meningkat. Untuk contohnya sendiri bisa seperti pemberlakukan tarif PPN ekspor, kuota perdagangan hingga pembatasan impor. Semakin banyak ekspor yang dilakukan maka semakin tinggi nilai tukar mata uang di negeri sendiri.

Tingkat Suku Bunga

Selain itu tingkat suku bunga juga bisa mempengaruhi nilai mata uang suatu negara.  Tingkat suku bunga ini mempengaruhi arus modal internasional sebab jika suku bunga naik maka masuknya modal di dalam negeri akan cenderung naik pula.  Suku bunga ini akan mempengaruhi penilaian bank ketika melakukan transaksi di pasar modal.

Tingkat Pendapatan

Adapun faktor internal yang mempengaruhi nilai mata uang kita seperti tingkat pendapatan di dalam negeri. Laju pertumbuhan pendapatan yang lemah akan membuat nilai mata uang di negeri sendiri ikut menurun. Rendahnya pendapatan akan menurunkan daya beli akan barang dan jasa di dalam negeri. Padahal pendapatan riil dalam negeri akan mampu meningkatkan permintaan valuta asing.

 Hutang

Hutang negara juga sangat mempengaruhi nilai mata uang suatu negara. Apabila nilai hutangnya besar maka akan memicu inflasi dan bisa berimbas pada defisit anggaran. Apalagi jika terjadi gagal bayar maka juga berimbas pada pelemahan mata uang di negara tersebut. Hal ini berdampak pada kestabilan politik dan ekonomi di negara tersebut.  

5.    Kecenderungan mengkonsumsi marjinal (marginal propensity to consume atau MPC) adalah bagian dari pendapatan disposabel (disposable income) tambahan yang digunakan konsumen untuk membeli barang dan jasa. Kita menghitungnya dengan membagi perubahan dalam pengeluaran konsumsi dengan perubahan dalam disposable income.

Banyak faktor yang menentukan kecenderungan mengkonsumsi marjinal, termasuk pajak, tingkat pendapatan, kekayaan, ketersediaan kredit, suku bunga, harga barang, dan kepercayaan konsumen.

Penghasilan disposabel merupakan penghasilan yang tersisa setelah rumah tangga membayar pajak. Oleh karena itu, semakin tinggi tarif pajak, semakin rendah pendapatan disposabel . Jika kita memperhitungkan dampak pajak, maka kita harus memodifikasi rumus di atas menjadi:

Pengganda Keynesian = 1/[1-MPC (1 – tarif pajak)]

Selain itu, pengeluaran konsumsi masing-masing individu juga bervariasi berdasarkan tingkat pendapatan mereka. Biasanya, individu berpenghasilan tinggi cenderung menghabiskan lebih sedikit untuk barang dan jasa daripada individu berpenghasilan rendah.

Konsumen juga mengandalkan kredit untuk membeli beberapa barang, seperti perumahan dan kendaraan. Mau tidak mau, suku bunga dan ketersediaan kredit menjadi penentu. Suku bunga tinggi membuat biaya pinjaman lebih mahal; oleh karena itu, mereka cenderung menunda pembelian tersebut. Di sisi lain, konsumen lebih suka menabung karena pengembalian lebih tinggi ketika suku bunga naik.

Kepercayaan konsumen juga merupakan faktor penting berikutnya. Jika konsumen optimis tentang pendapatan dan pekerjaan masa depan mereka, mereka kemungkinan akan berbelanja sekarang. Sebaliknya, ketika mereka pesimis, mereka akan cenderung untuk menabung lebih banyak, mengantisipasi kondisi buruk di masa depan.

6.    Keadaan ekonomi yang tidak konstan menjadi salah satu kendala di perekonomian yang berdampak pada konsumsi yang tidak stabil, karena kebutuhan yang banyak dan ekonomi yang minim. Konsumsi sendiri adalah suatu kegiaan manusia mengurangi atau menghabiskan nilai guna suatu barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan.

Faktor-fakror yang mempengaruhi konsumsi, besar kecilnya konsumsi yang dilakukan seseorang dipengaruhi oleh:

1)    Pendapatan

2)    Perkiraan harga dimasa mendatang

3)    Harga barang yang bersangkutan

4)    Iklan

5)    Ketersediaan barang dan jasa

6)    Selera

7)    Mode

8)    Jumlah keluarga

9)    Lingkungan sosial budaya.

7.    Diketahui :

1)    Qd = 1.000 – 20P

2)    Qs = 200 + 40P

Ditanya

Jumlah harga keseimbangan pasar ?

Penyelesaian

Qd=Qs

1000-20P=-200+40P

1000+200=40P+20P

1200=60P

P=1200/60

P=20

Harga keseimbangan pasar adalah 20

8.    Diketahui

1)    Biaya total dalam pembuatan suatu produk sebesar Rp. 750.000,00

2)    Fungsi produksi TC = 5Q + 250

Ditanya

Jumlah barang yang diproduksi ?

Penyelesaian

TC = 750
5Q+250 = 750
5Q = 750 - 250
Q = 500/5
Q = 100 (c)

9.    Diketahui

TR= 150 Q – 0,5 Q2

TC= 1/3 Q3 – 13Q2 + 250 Q + 250

Ditanya

keuntungan maksimum akan diperoleh pada saat output (Q)

penyelesaian

Keuntungan maksimum akan diperoleh pada saat output (Q) mencapai -100 unit. Keuntungan/laba maksimum atau kerugian minimum diperoleh pada tingkat output dimana pendapatan marjinal sama dengan biaya marjinal, atau MR=MC. Penerimaan total (TR = Total Revenue) adalah jumlah seluruh penerimaan perusahaan dari hasil penjualan sejumlah produk (barang yang dihasilkan). Biaya total/ total cost (TC) yaitu jumlah keseluruh biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk menghasilkan sejumlah produk dalam suatu periode tertentu.

Pembahasan

Laba maksimum/kerugian dapat diperoleh dari penerimaan total dikurangi dengan biaya total produksi suatu barang. Maka untuk menentukan laba/ruginya suatu perusahaan ditentukan terlebih dahulu masing-masing nilai MR dan MCnya.

Pendapatan marginal (MR) merupakan turunan pertama dari TR, dimana diketahui TR = 150Q - 0,5Q², maka

MR = TR’

MR = 150 - Q

Dan biaya marginal (MC) merupakan turunan pertama dari TC, dimana diketahui TC = Q³ - 13Q² + 250Q+250

MC = TC’

MC = Q² - 26Q + 250

Keuntungan atau laba maksimum terjadi saat MR = MC, maka

MR = MC

150 - Q = Q² - 26Q + 250

150 - 250 = Q² - 26Q + Q

-100 = Q² - 25Q

-100 = Q(Q - 25)

-100 = Q

Dan untuk

-100 = Q - 25

-100 + 25 = Q

-75 = Q

Untuk jumlah output Q = -100, Maka nilai TR :

TR = 150Q - 0,5Q²

= 150(-100) - 0,5(-100)²

= -15.000 - 5.000 = -20.000

Dan nilai TC nya :

TC = Q³ - 13Q² + 250Q + 250

= (-100)³ - 13(-100)² + 250(-100) + 250

= -1.000.000/3 - 130.000 - 25.000 + 250

= -488.083,33

Tingkat laba maksimum atau kerugian minimum yang diperoleh :

Laba/rugi = TR - TC

= -20.000 - (-488.083,33)

= 468.083,33

Untuk jumlah output Q = -75, Maka nilai TR :

TR = 150Q - 0,5Q²

= 150(-75) - 0,5(-75)²

= -11.250 - 2.812,5 = -14.062,5

Dan nilai TC nya :

TC = Q³ - 13Q² + 250Q + 250

= (-75)³ - 13(-75)² + 250(-75) + 250

= -140.625 - 73.125 - 18.750 + 250

= -232.250

Tingkat laba maksimum atau kerugian minimum yang diperoleh :

Laba/rugi = TR - TC

= -14.062,5 - (-232.250)

= 218.187,5

Jadi tingkat laba maksimum yang diperoleh perusahaan adalah saat output (Q) sebanyak -100 unit.

10. Diketahui data perekonomian makro sebagai berikut (Milyar):
Sewa Tanah = Rp. 9.250
Upah dan Gaji = Rp. 15.000
Konsumsi = Rp. 18.000
Bunga Modal = Rp. 3.500
Pengeluaran Pemerintah = Rp. 14.000
Ekspor = Rp. 12.500
Impor = Rp. 7.250
Keuntungan = Rp. 12.000
Investasi = Rp. 4.500
Berdasarkan data tersebut hitunglah pendapatan nasional melalui:
a. Pendekatan pendapatan ?

b. Pendekatan pengeluaran ?

Jawab:

A:Pendekatan pendapatan

y=R+W+I+P

Y=9.250.000.000.000+15.000.000.000+3.500.000.000.000+12.000.000.000

Y=RP.39.750.000.000.000

 

B.pendekatan pengeluaran

y=C+I+G+(X-M)

Y=18.000.000.000+4.500.000.000.000+14.000.000.000+                 (12.500.000.000.000- 7.250.000.000.000)

 =RP.41.750.000.000.000

 

 

 


 

 

 

1 komentar:

JAWABAN UJIAN AKHIR SEMESTER 01 PENGANTAR ILMU EKONOMI DAN BISNIS KAMPUS MILENIAL ITBI

  NAMA                  : JUNITA SIMANJUNTAK KELAS                   : PAGI JURUSAN              : AKUNTANSI         1.     ...